Dalam
materi ini, saya, calon Guru Penggerak Angkatan 10 Kabupaten Kepulauan Anambas,
belajar banyak hal, tentang pengetahuan seputar aset sekolah yang bisa
dijadikan modal dalam mencapai visi sekolah, tentang pengalaman yang menambah
pemahaman saya apa saja objek yang termasuk dalam aset sekolah. Pengetahuan
yang kami dapat lewat modul ini adalah tentang sekolah dimana kami
menjalani profesi kami sebagai guru.
Pertama yaitu tentang sekolah sebagai
sebuah ekosistem terdiri bukan hanya berupa fisik bangunan sekolah dan sarana
prasarana yang mendukung pembelajaran, tapi juga sebagai sebuah ekosistem,
ternyata sekolah terdiri dari faktor biotik (unsur hidup atau manusia) dan
faktor abiotik (unsur tak hidup yaitu keuangan, sarana dan prasarana serta
lingkungan alam). Kedua faktor tersebut saling berinteraksi satu sama lain dan
memiliki hubungan yang erat dalam mendorong terwujudnya visi sekolah secara
maksimal, jika dikelola secara bijak cerdas, terutama dalam menunjang
pembelajaran yang berpihak pada murid.
Kedua
yaitu tentang pendekatan dalam menghadapi setiap persoalan dalam sekolah. Ada
dua pendekatan yang kami pelajari yaitu pendekatan berbasis pada
kekurangan/masalah/hambatan dan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Pada
pendekatan berbasis kekurangan, teori yang dapat kami simpulkan yaitu, ketika
dihadapkan pada sebuah persoalan, seseorang akan melihat sebuah persoalan
dengan paradigma berpikir yang pesimis, yang dilihat dalam masalah itu adalah
kekurangan, kelemahan yang bisa berdampak kurang berhasilnya sebuah
program.
Akibat
paradigma berpikir seperti ini, maka orang tersebut tidak akan melihat sebuah
kekuatan positif, bahkan hal positif yang sebenarnya bisa jadi peluang malah
tidak tampak karena dia hanya akan berpikir sebuah kesulitan yang akan
dihadapi. Baik berangkat dari
situasi dan kondisi maupun dari pengalaman sebelumnya. Sedangkan pendekatan
berbasis kekuatan merupakan kebalikan dari pendekatan berbasis
kekurangan.
Guru atau seseorang dalam menghadapi sebuah permasalahan,
akan selalu berpikir positif dan optimis, sehingga setiap kekurangangan yang
ada bukan sebuah masalah, dia akan melihat sisi positif, nilai lebih yang
menjadi aset/kekuatan yang bisa dijadikan faktor pendukung yang mampu
mensukseskan berjalannya sebuah acara.
Dari paradigma positif tersebut, maka dia tidak akan
menggantungkan kebutuhan kegiatan itu pada orang lain, tapi mencari peluang
bagaimana supaya kebutuhan tersebut bisa diatasi. Dan
pendekatan aset ini digunakan sebagai dasar paradigma inquiri apresiatif.
Seorang guru sebagai agen of change, pemimpin perubahan, sudah selayaknya
menggunakan pendekatan ini melalui inquiri apresitif tahapan BAGJA untuk
memulai melakukan transformasi pendidikan.
Ketiga
yaitu aset-aset atau modal utama. Ada tujuh aset yang dapat dijadikan salah
satu alat membantu mengemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah yaitu
modal manusia (kepala sekolah,guru, murid, komite, masyarakat sekitar, dan
tenaga kependidikan), modal sosial (norma/aturan yang mengikat, kepercayaan,
komunitas.
Modal
politik (aktifitas dekmokrasi, SDM yang dapat mempengaruhi kebijakan), modal
agama dan budaya (kegiatanritual keagamaa, kebudayaan), modal fisik
(ruang kelas, lab, ruang pertemuan, musolla, toliet, saluran pembuangan/air,
alat transportasi, jalur komunikasi/transportasi, dll). Modal lingkungan/alam
(potensi alam sekolah yang belum di olah, udara yang bersih, laut, taman,
danau, sungai, tumbuhan, hewan, dll) dan yang terakhir modal finansial
(keuangan, pengetahuan bagaimana menghasilkan uang)
Senang sekali bisa mengenal dan mempelajari materi ini.
Ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan saya sebagai guru yang
berperan sebagai pemimpin pembelajaran.
Dengan materi ini, saya jadi tahu bahwa aset sekolah bisa
dijadikan modal utama dalam mencapai sebuah visi sekolah dengan sukses.
Bagaimana kita bijak dan trampil dalam mengelola aset sekolah dan memanfaatkan
sebaik-baiknya secara bijak untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada
murid, untuk membantu siswa menemukan kemerdekaan belajarnya, untuk menanamkan
karakter mulia dan budi pekerti luhur ada siswa.
Hal lain yang tak kalah menarik, bahwa aset ternyata tak
hanya yang bagian dari sekolah yang berwujud, tapi juga yang tak berwujud, aset
tak hanya yang ada dalam lingkungan sekolah atau terintegrasi dengan sekolah,
tapi lingkungan alam, masyarakat, agama dan budaya, politik juga termasuk dalam
7 aset sebagaimana kerangka pemikiran dari Green dan Haines (dalam modul 3.2
PGP, 2022).
Sungguh ilmu baru yang menarik, lebih membuka wawasan
saya sebagai seorang guru yang berperan menjadi pemimpin pembelajaran dan
perubahan, dan saat ini dituntut untuk menjadi pemimpin dalam pengolahan sumber
daya. Untuk mampu memimpin dalam pengolahan sumber daya yang menjadi aset
sekolah, maka sebagai bagian dari sekolah tersebut, wajib bagi saya untuk
mengenali satu persatu bersama rekan guru dan warga sekolah lainnya, sumber
daya apa saja yang telah dimiliki sekolah kami, yang kiranya akan menjadi modal
utama bagi sekolah kami dalam mewujudkan visi sekolah, dalam mewujudkan
pendidikan yang berpihak dan murid dan membantu siswa mencapai kemerdekaan
belajarnya. Dan berangkat dari mengidentifikasi kemudian mengklasifikasi
aset-aset sekolah, maka kita akan dengan mudah menentukan, bagaimana aset-aset
tersebut agar bisa dimanfaatkan, dikembangkan secara maksimal untuk kebutuhan
dan kepentingan belajar siswa.
Dalam setiap perubahan, pasti ada kendala dan
hambatan. Hambatan dan kendala yang kami hadapi dalam memanfaatkan sumber
daya sekolah adalah, pertama, kurangnya kesadaran warga sekolah untuk
memaksimalkan potensi-potensi yang ada, sehingga potensi itu kurang dapat
dirasakan manfaatnya, kurang dimanfaatkan secara maksimal.
Kedua, kolaborasi yang masih kurang antar sesama komponen
biotik dalam sekolah. Ketika kolaborasi kurang maksimal, maka apa yang menjadi
tujuan dari kebermanfaatan aset sekolah tersebut kurang maksimal, bahkan ada
aset-aset sekolah yang tidak dimanfaatkan untuk mendukung proses
pembelajaran yang berpihak pada murid. Ketiga minimnya pengetahuan dan
ketrampilan serta keterbatasan waktu dalam menggunakan dan memanfaatkan aset
sekolah tersebut, misalnya dalam pengolahan sarana dan prasarana pembelajaran
seperti lab, alat-alat peraga.
Berangkat dari identifikasi dan klasifikasi aset sekolah,
hambatan-hambatan yang kami hadapi, dan manfaat besar yang bisa kami dapatkan
dari aset-aset tersebut, kita harus memaksimalkan pemanfaatan, penggunaan aset
aset tersebut, melalui perintah atasan, bimbingan, dan kesadaran. Agar
aset-aset tersebut bisa berguna, bisa digunakan dalam mendukung keberhasilan
proses pembelajaran yang berpihak pada murid dan memerdekakan murid.
Pada akhirnya satu hal yang dapat saya simpulkan, sekolah
sebagai sebuah ekosistem tentu memiliki aset-aset yang bisa jadi kekuatan
tersendiri bagi sekolah tersebut, dan aset itu dapat menjadi modal utama dan
kekuatan sekolah jika kita sebagai guru mampu memaksimalkan dalam
pengolahannya.
Terima kasih . . .
DIRI TERGERAK
KITA BERGERAK
MARI MENGGERAKAN


