Senin, 26 Agustus 2024

Jurnal Refleksi Modul 3.2

Dalam materi ini, saya, calon Guru Penggerak Angkatan 10 Kabupaten Kepulauan Anambas, belajar banyak hal, tentang pengetahuan seputar aset sekolah yang bisa dijadikan modal dalam mencapai visi sekolah, tentang pengalaman yang menambah pemahaman saya apa saja objek yang termasuk dalam aset sekolah. Pengetahuan yang kami dapat lewat modul ini adalah  tentang sekolah dimana kami menjalani profesi kami sebagai guru. 

 Pertama yaitu tentang sekolah sebagai sebuah ekosistem terdiri bukan hanya berupa fisik bangunan sekolah dan sarana prasarana yang mendukung pembelajaran, tapi juga sebagai sebuah ekosistem, ternyata sekolah terdiri dari faktor biotik (unsur hidup atau manusia) dan faktor abiotik (unsur tak hidup yaitu keuangan, sarana dan prasarana serta lingkungan alam). Kedua faktor tersebut saling berinteraksi satu sama lain dan memiliki hubungan yang erat dalam mendorong terwujudnya visi sekolah secara maksimal, jika dikelola secara bijak cerdas, terutama dalam menunjang pembelajaran yang berpihak pada murid.

Kedua yaitu tentang pendekatan dalam menghadapi setiap persoalan dalam sekolah. Ada dua pendekatan yang kami pelajari yaitu pendekatan berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan dan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Pada pendekatan berbasis kekurangan, teori yang dapat kami simpulkan yaitu, ketika dihadapkan pada sebuah persoalan, seseorang akan melihat sebuah persoalan dengan paradigma berpikir yang pesimis, yang dilihat dalam masalah itu adalah kekurangan, kelemahan yang bisa berdampak kurang berhasilnya sebuah program. 

Akibat paradigma berpikir seperti ini, maka orang tersebut tidak akan melihat sebuah kekuatan positif, bahkan hal positif yang sebenarnya bisa jadi peluang malah tidak tampak karena dia hanya akan berpikir sebuah kesulitan yang akan dihadapi. Baik berangkat dari situasi dan kondisi maupun dari pengalaman sebelumnya. Sedangkan pendekatan berbasis kekuatan merupakan kebalikan dari pendekatan berbasis kekurangan. 

Guru atau seseorang dalam menghadapi sebuah permasalahan, akan selalu berpikir positif dan optimis, sehingga setiap kekurangangan yang ada bukan sebuah masalah, dia akan melihat sisi positif, nilai lebih yang  menjadi aset/kekuatan yang bisa dijadikan faktor pendukung yang mampu mensukseskan berjalannya sebuah acara. 

Dari paradigma positif tersebut, maka dia tidak akan menggantungkan kebutuhan kegiatan itu pada orang lain, tapi mencari peluang bagaimana supaya kebutuhan tersebut bisa diatasi. Dan pendekatan aset ini digunakan sebagai dasar paradigma inquiri apresiatif. Seorang guru sebagai agen of change, pemimpin perubahan, sudah selayaknya menggunakan pendekatan ini melalui inquiri apresitif tahapan BAGJA untuk memulai melakukan transformasi pendidikan.

Ketiga yaitu aset-aset atau modal utama. Ada tujuh aset yang dapat dijadikan salah satu alat membantu mengemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah yaitu modal manusia (kepala sekolah,guru, murid, komite, masyarakat sekitar, dan tenaga kependidikan), modal sosial (norma/aturan yang mengikat, kepercayaan, komunitas. 

Modal politik (aktifitas dekmokrasi, SDM yang dapat mempengaruhi kebijakan), modal agama dan budaya (kegiatanritual  keagamaa, kebudayaan), modal fisik (ruang kelas, lab, ruang pertemuan, musolla, toliet, saluran pembuangan/air, alat transportasi, jalur komunikasi/transportasi, dll). Modal lingkungan/alam (potensi alam sekolah yang belum di olah, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dll) dan yang terakhir modal finansial (keuangan, pengetahuan bagaimana menghasilkan uang)

Senang sekali bisa mengenal dan mempelajari materi ini. Ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan saya sebagai guru yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran. 

Dengan materi ini, saya jadi tahu bahwa aset sekolah bisa dijadikan modal utama dalam mencapai sebuah visi sekolah dengan sukses. Bagaimana kita bijak dan trampil dalam mengelola aset sekolah dan memanfaatkan sebaik-baiknya secara bijak untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid, untuk membantu siswa menemukan kemerdekaan belajarnya, untuk menanamkan karakter mulia dan budi pekerti luhur ada siswa. 

Hal lain yang tak kalah menarik, bahwa aset ternyata tak hanya yang bagian dari sekolah yang berwujud, tapi juga yang tak berwujud, aset tak hanya yang ada dalam lingkungan sekolah atau terintegrasi dengan sekolah, tapi lingkungan alam, masyarakat, agama dan budaya, politik juga termasuk dalam 7 aset sebagaimana kerangka pemikiran dari Green dan Haines (dalam modul 3.2 PGP, 2022).

Sungguh ilmu baru yang menarik, lebih membuka wawasan saya sebagai seorang guru yang berperan menjadi pemimpin pembelajaran dan perubahan, dan saat ini dituntut untuk menjadi pemimpin dalam pengolahan sumber daya. Untuk mampu memimpin dalam pengolahan sumber daya  yang menjadi aset sekolah, maka sebagai bagian dari sekolah tersebut, wajib bagi saya untuk mengenali satu persatu bersama rekan guru dan warga sekolah lainnya, sumber daya apa saja yang telah dimiliki sekolah kami, yang kiranya akan menjadi modal utama bagi sekolah kami dalam mewujudkan visi sekolah, dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak dan murid dan membantu siswa mencapai kemerdekaan belajarnya. Dan berangkat dari mengidentifikasi kemudian mengklasifikasi aset-aset sekolah, maka kita akan dengan mudah menentukan, bagaimana aset-aset tersebut agar bisa dimanfaatkan, dikembangkan secara maksimal untuk kebutuhan dan kepentingan belajar siswa.

Dalam setiap perubahan, pasti ada kendala dan  hambatan. Hambatan dan kendala yang kami hadapi dalam memanfaatkan sumber daya sekolah adalah, pertama, kurangnya kesadaran warga sekolah untuk memaksimalkan potensi-potensi yang ada, sehingga potensi itu kurang dapat dirasakan manfaatnya, kurang dimanfaatkan secara maksimal. 

Kedua, kolaborasi yang masih kurang antar sesama komponen biotik dalam sekolah. Ketika kolaborasi kurang maksimal, maka apa yang menjadi tujuan dari kebermanfaatan aset sekolah tersebut kurang maksimal, bahkan ada aset-aset sekolah yang tidak dimanfaatkan  untuk mendukung proses pembelajaran yang berpihak pada murid.  Ketiga minimnya pengetahuan dan ketrampilan serta keterbatasan waktu dalam menggunakan dan memanfaatkan aset sekolah tersebut, misalnya dalam pengolahan sarana dan prasarana pembelajaran seperti lab, alat-alat peraga.

Berangkat dari identifikasi dan klasifikasi aset sekolah, hambatan-hambatan yang kami hadapi, dan manfaat besar yang bisa kami dapatkan dari aset-aset tersebut, kita harus memaksimalkan pemanfaatan, penggunaan aset aset tersebut, melalui perintah atasan, bimbingan, dan kesadaran. Agar aset-aset tersebut bisa berguna, bisa digunakan dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran yang berpihak pada murid dan memerdekakan murid.

Pada akhirnya satu hal yang dapat saya simpulkan, sekolah sebagai sebuah ekosistem tentu memiliki aset-aset yang bisa jadi kekuatan tersendiri bagi sekolah tersebut, dan aset itu dapat menjadi modal utama dan kekuatan sekolah jika kita sebagai guru mampu memaksimalkan dalam pengolahannya.

 

Terima kasih . . .

DIRI TERGERAK

KITA BERGERAK

MARI MENGGERAKAN

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.1


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

Oleh : Tami Nurhadi

CGP_10 Kab. Kepulauan Anambas

 

Assalamualaikum,. Pada kesempatan ini saya akan menulis mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan pada modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. Jurnal ini sebagai refleksi diri setelah selama dua minggu ke-2 mengikuti kegiatan Pendidikan CGP yang kedepannya akan ditulis secara rutin selama dua mingguan sebagai tugas yang harus dikerjakan oleh calon guru penggerak.

Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (Fact, Feeling, Findings, dan Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yakni : Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan.

  1. Fact (Peristiwa)

Saya memiliki pengalaman yang sangat positif dalam mengikuti pembelajaran di modul 3.1 ini. Saya mengikuti tahapan pembelajaran yang diatur dengan urutan MERDEKA seperti pada modul-modul sebelumnya. Kata MERDEKA sendiri adalah singkatan dari langkah-langkah belajar yang harus dilalui, yaitu Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata.

Pada tahap “Mulai dari diri”, saya melakukan kegiatan untuk membangkitkan pengetahuan awal saya dan mengamati keterampilan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan yang harus mempertimbangkan berbagai pihak yang terlibat, seperti murid, orang tua/wali murid, guru, pengawas, dan pihak komunitas sekolah.

Tahap eksplorasi konsep adalah saat saya melakukan eksplorasi mandiri untuk memahami konsep pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin di sekolah, yang bertujuan untuk menjadikan institusi sekolah sebagai institusi moral. Saya juga menjelaskan pentingnya pemimpin dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada tiga unsur, yaitu berpihak pada murid, bertanggung jawab, serta didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal. Selain itu, saya juga menganalisis nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam sebuah pengambilan keputusan yang menghadapi dilema etika.

Pada tahap ruang kolaborasi, saya berpartisipasi dalam kolaborasi di ruang virtual dengan rekan-rekan CGP lainnya, dengan tujuan untuk saling berbagi, berkolaborasi, dan menerapkan keterampilan pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Setelah melakukan tahap demonstrasi kontekstual, saya melakukan analisis tentang bagaimana proses pengambilan keputusan diterapkan berdasarkan pengetahuan yang saya pelajari tentang paradigma, prinsip, pengambilan dan pengujian keputusan di sekolah asal saya dan di sekolah/lingkungan lain. Saya melakukan wawancara dengan dua kepala sekolah yang berbeda untuk mengetahui praktik pengambilan keputusan yang biasa dilakukan oleh mereka.

Saya mengalami sedikit tantangan saat melaksanakan tugas wawancara dengan dua kepala sekolah yang berbeda sebagai bagian dari tujuh tahapan pengalaman belajar. Namun, saya berhasil mengatasi tantangan tersebut dengan membuat pertanyaan yang bermakna dan relevan dengan tujuan saya. Saya merasa berhasil melakukan tugas tersebut sesuai dengan rencana dan sampai saat ini segala sesuatu berjalan dengan baik.

  1. Perasaan (Feeling)

Saya merasa bersyukur selama proses belajar karena saya mempelajari ilmu pengetahuan baru yang sangat penting bagi seorang pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang guru penggerak, saya harus memimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, melatih guru lain, mempromosikan kolaborasi antara guru, dan memajukan kepemimpinan siswa. Untuk melakukan tugas tersebut dengan baik, saya harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang didasarkan pada nilai-nilai kebajikan. Seperti yang saya pelajari, seorang guru penggerak harus memiliki nilai-nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan mendukung murid. Ketika mengambil keputusan, seorang pemimpin harus mempertimbangkan tiga unsur penting, yaitu mendukung murid, bertanggung jawab, dan didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal. Selama mempelajari konsep materi dari awal hingga modul ini, saya menemukan banyak keterkaitan yang membantu saya memahami konsep tersebut dengan lebih baik dan membentuk pemahaman baru bagi saya.

  1. Pembelajaran (Findings)

Saya belajar dari modul 3.1 bahwa sebagai seorang pemimpin, pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan adalah suatu keterampilan yang sangat penting. Dalam pengambilan keputusan, terkadang terdapat banyak kepentingan yang saling bersinggungan dan dapat menyebabkan beberapa pihak merasa dirugikan atau tidak puas dengan keputusan yang diambil. Namun, semakin sering kita melakukan pengambilan keputusan, semakin terlatih dan fokus dalam mengambil keputusan yang tepat. Meskipun sulit untuk memilih antara beberapa pilihan yang benar, sebagai pemimpin, kita harus mempertimbangkan tiga unsur penting dalam pengambilan keputusan, yaitu mendukung murid, didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari keputusan yang diambil.

Ketika kita berada dalam situasi dilema etika, terdapat nilai-nilai kebajikan mendasar yang saling bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup. Dalam paradigma situasi dilema etika, terdapat kategori seperti individu vs kelompok, keadilan vs kasih sayang, kebenaran vs kesetiaan, serta jangka pendek vs jangka panjang. Terdapat tiga prinsip pengambilan keputusan yang dapat digunakan dalam menghadapi dilema etika, yaitu berpikir berdasarkan hasil akhir, berpikir berdasarkan peraturan, dan berpikir berdasarkan rasa peduli.

Dalam menghadapi situasi dilema etika atau bujukan moral yang membingungkan, terdapat 9 langkah yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil. Pertama, mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi tersebut. Kedua, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut. Ketiga, mengumpulkan fakta-fakta relevan yang berkaitan dengan situasi tersebut. Keempat, melakukan pengujian benar atau salah dengan menguji legalitas, regulasi/standar profesional, intuisi, publikasi, dan panutan/idola. Kelima, melakukan pengujian paradigma benar lawan benar. Keenam, melakukan prinsip resolusi. Ketujuh, melakukan investigasi opsi trilemma. Kedelapan, membuat keputusan. Dan terakhir, kesembilan, melihat kembali keputusan dan merenungkannya kembali. Perlu diperhatikan bahwa sembilan langkah pengambilan keputusan ini adalah panduan, bukan sebuah metode yang kaku dan harus diadaptasi dengan situasi yang sedang dihadapi.

  1. Penerapan (Future)

Saya akan mengaplikasikan konsep pengambilan keputusan yang telah dipelajari, termasuk empat paradigma, tiga prinsip, dan sembilan langkah, untuk meningkatkan keterampilan saya dalam membuat keputusan. Selain itu, saya akan berbagi pengetahuan tentang materi baru yang telah dipelajari melalui berbagai media, baik secara langsung maupun melalui platform digital agar dapat diakses dengan mudah oleh rekan-rekan guru lainnya.

ini adalah hasil refleksi dari pengalaman dan pemahaman saya selama dua minggu belajar di modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. Saya berharap tulisan ini dapat memberikan pencerahan dan manfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi saya sendiri.

 

Senin, 12 Agustus 2024

Kesimpulan dan Keterkaitan Materi

 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin


 

Oleh: Tami Nurhadi


Filosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara

Pada modul 3.1 ini mempelajari tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yaitu:

Ing Ngarsa sung tuladha yang artinya di depan memberi contoh. Sebagai pemimpin pembelajaran, Guru harus dapat memberi contoh terhadap murid- muridnya, terhadap rekan kerja dan lingkungan masyarakat, sehingga keputusan yang diambil harus mencerminkan sebagai pemimpin pembelajaran yang dapat menjadi contoh yang baik atau teladan bagi murid, rekan Guru dan lingkungan masyarakat.

Ing Madya mangun karsa yang artinya di tengah memberikan inspirasi bagi murid, rekan Guru dan lingkungan masyarakat. Dalam pengambilan keputusan pasti akan ada pertimbangan bahwa apakah keputusan yang diambil bisa menjadi inspirasi bagi murid, rekan Guru dan masyarakat? lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Tut Wuri Handayani artinya di belakang memberikan dorongan. Sebagai pemimpin pembelajaran Guru dalam mengambil keputusan harus bisa mendorong murid, rekan kerja dan masyarakat kepada hal yang baik, yang bermanfaat buat kemajuan Pendidikan di Indonesia.

 

Prinsip Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai Kebaikan Diri.

Nilai kebaikan yang kita pegang selam ini digunakan untuk pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Misalnya nilai kebaikan yang saya pegang adalah nilai kejujuran, empati, tanggung jawab, inspiratif dan selalu berbagi. Sehingga semua keputusan yang saya ambil harus sesuai dengan nilai kebaikan yang saya pegang, hal ini membuat keputussn yang saya ambil akan sesuai dengan kepribadian dan prinsip hidup saya. Jika keputusan yang kita ambil sesuai dengan prinsip hidup kita, maka keputusan itu akan kita laksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab. 

 

Pengujian Keputusan yang diambil dengan praktik Coaching

Dalam rangka untuk menguji keputusan yang diambil, kita bisa gunakan dengan metode coaching. Metode coaching merupakan metode bukan menggurui tetapi lebih untuk memunculkan kekuatan diri, sehingga solusi berasal dari coachee bukan dari coach. Pada saat keputusan yang kita ambil, terkadang ada banyak pertanyaan apakah keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik, atau apakah keputusan kita sudah efektif dan efisien, maka kita bisa menggunakan dengan praktik coaching model TIRTA, dimana kita melakukan pengujian keputusan dengan tahap menemukan tujuan umum, menemukan identifikasi masalah, sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan dan semua itu bukan berasal dari coach tetapi dari coachee sebagai pembuat keputusan.

 

Kemampuan Guru dalam Pengambilan Keputusan berdasarkan Aspek Sosial Emosional

Salah satu tujuan pembelajaran sosial emosional adalah membuat keputusaan yang bertanggung jawab dan menunjukkan rasa empati terhadap orang lain. Untuk itu sebagai pemimpin pembelajaran Guru harus dapat membuat keputusan yang dapat di pertanggungjawabkan dan tetunya mengandung rasa empati terhadap murid, rekan kerja ataupun masyarakat sehingga keputusan yang diambil membuat semua nyaman, tidak merugikan orang lain. Untuk itu sebagai Guru kita harus bisa menjalankan pembelajaran sosial emosional, agar-agar murid- murid kita juga nantinya akan dapat membuat keputusan yang dapat di pertanggungjawabkan dan mempunyai rasa empati terhadap sesama. 

 

Pembahasan Studi Kasus Moral dan Etika sesuai dengan Nilai yang di anut oleh Guru

Pada pengambilan keputusan pada kasus moral etika, di sesuaikan dengan nilai kebaikan yang di anut oleh Guru sehingga Guru dapat membuat keputusan yang tepat dan dapat memperbaiki moral etika peserta didiknya, bila memang terjadi penyimpangan, atau paling tidak sebagai bahan pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran moral etika. Sebagai Guru kita harus bisa menjadi contoh yang baik untuk para murid kita, rekan Guru dan lingkungan masyarakat sehingga seorang Guru yang di gugu dan di tiru benar- benar dapat tercapai. 

 

Ketepatan Pengambilan Keputusan berdampak pada Lingkungan yang Positi, Kondusif, Aman dan Nyaman

Pengambilan keputusan yang tepat akan menjadi keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Keputusan yang tepat akan mebuat semua orang yang berhubungan kan merasa nyaman, aman, dan pastinya lingkungan akan kondusif, semua bisa menerima dengan baik dan ikhlas. Akhirnya keputusan yang diambil akan berdampak pada kondisi lingkungan yang kondusif, aman, dan Nyaman.

 

Kesulitan- kesulitan dalam Pengambilan Keputusan di Lingkungan Sekolah

Kesulitan yang dialami pada saat mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah :

Tidak semua murid, rekan kerja atau pun masyarakat dapat menerima dengan ikhlas keputusan yang kita ambil.

Pasti ada pro dan kontra terhadap keputusan yang kita ambil

Bila keputusan yang diambil terlalu sesuai aturan, maka kita akan berhadapan dengan orang- orang yang terbiasa melanggar peraturan dan itu dianggap hal yang wajar.

Keputusan yang kita ambil bisa membuat kita tidak di sukai oleh murid, rekan Guru ataupun masyarakat.

Untuk mendapatkan kesepakatan bersama akan susah bila setiap individu mempunyai ego masing- masing. 

 

Pengaruh Pengambilan Keputusan dengan Pembelajaran berpihak Murid

Pengambilan keputusan yang tepat harus di dasarkan pada kepentingan murid, harus bisa berpihak pada murid. Misalnya kepentingan murid lebih di utamakan daripada kepentingan pribadi. Semua pengambilan keputusan dikembalikan lagi ke arah murid, apakah murid menyetujui, apakah berpihak pada murid, apakah lebih mengutamakan kepentingan murid, apakah membuat semua murid nyaman? apakah dapat mengoptimalkan potemnsi yang dimiliki oleh murid? semua pertanyaan itu dapat menjawab apakah keputusan yang diambil berpihak pada murid atau tidak. Dan tentunya bila keputusan yang diambil menggunakan 9 langkah dalam pengambilan keputusan maka dapat dipastikan keputusan tersebut berpihak pada murid.

 

Pengambilan Keputusan Seorang Pemimpin Pembelajaran dapat Mempengaruhi Masa Depan Murid- murid.

Keputusan yang diambil Guru sebagai pemimpin pembelajaran  pasti akan berpengaruh terhadap masa depan murid, sehingga keputusan tersebut harus berpihak pada murid, dan tentunya dapat mengoptimalkan potensi murid sehingga keputusan tersebut sangat bermanfaat dan berpengaruh terhadap masa depan murid.

Keputusan yang dapat membuat murid dapat mengetahui bakat minatnya sehingga murid dapat mandiri dengan kehidupannya.

 

Kesimpulan Pembelajaran Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Kesimpulan pembelajaran modul 3.1 Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan materi yang wajib dikuasai oleh setiap Guru karena sangat bermanfaat, untuk Guru, rekan Guru yang lain, peserta didik dan lingkungan masyarakat. Pada saat kita mengalami dilema etika, kita harus memilih salah satu diantara 2 hal yang baik dan benar, maka kita harus memahami paradigma dilema etika, prinsip pengambilan keputusan dan tentunya 9 langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Setalah kita mengambil keputusan, kita akan uji keputusan tersebut dengan praktik Coaching model TIRTA. Dan selain itu kita juga harus dapat mempraktikkan pembelajaran sosial dan emosional sehingga keputusan yang diambil bermanfaat untuk semua murid, rekan Guru dan Masyarakat. Semua itu kita lakukan karena kita memegang prinsip kebaikan, kita mengikuti filosofi Ki Hajar Deantara, pembelajaran yang berpihak pada murid dengan 3 semboyan Ki hajar Dewantara yang menjadi pedoman Guru menjadi pengajar dan pemimpin pembelajaran. 

Jurnal Refleksi Modul 3.2

Dalam materi ini, saya, calon Guru Penggerak Angkatan 10 Kabupaten Kepulauan Anambas, belajar banyak hal, tentang pengetahuan seputar aset...