Senin, 26 Agustus 2024

Jurnal Refleksi Modul 3.2

Dalam materi ini, saya, calon Guru Penggerak Angkatan 10 Kabupaten Kepulauan Anambas, belajar banyak hal, tentang pengetahuan seputar aset sekolah yang bisa dijadikan modal dalam mencapai visi sekolah, tentang pengalaman yang menambah pemahaman saya apa saja objek yang termasuk dalam aset sekolah. Pengetahuan yang kami dapat lewat modul ini adalah  tentang sekolah dimana kami menjalani profesi kami sebagai guru. 

 Pertama yaitu tentang sekolah sebagai sebuah ekosistem terdiri bukan hanya berupa fisik bangunan sekolah dan sarana prasarana yang mendukung pembelajaran, tapi juga sebagai sebuah ekosistem, ternyata sekolah terdiri dari faktor biotik (unsur hidup atau manusia) dan faktor abiotik (unsur tak hidup yaitu keuangan, sarana dan prasarana serta lingkungan alam). Kedua faktor tersebut saling berinteraksi satu sama lain dan memiliki hubungan yang erat dalam mendorong terwujudnya visi sekolah secara maksimal, jika dikelola secara bijak cerdas, terutama dalam menunjang pembelajaran yang berpihak pada murid.

Kedua yaitu tentang pendekatan dalam menghadapi setiap persoalan dalam sekolah. Ada dua pendekatan yang kami pelajari yaitu pendekatan berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan dan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Pada pendekatan berbasis kekurangan, teori yang dapat kami simpulkan yaitu, ketika dihadapkan pada sebuah persoalan, seseorang akan melihat sebuah persoalan dengan paradigma berpikir yang pesimis, yang dilihat dalam masalah itu adalah kekurangan, kelemahan yang bisa berdampak kurang berhasilnya sebuah program. 

Akibat paradigma berpikir seperti ini, maka orang tersebut tidak akan melihat sebuah kekuatan positif, bahkan hal positif yang sebenarnya bisa jadi peluang malah tidak tampak karena dia hanya akan berpikir sebuah kesulitan yang akan dihadapi. Baik berangkat dari situasi dan kondisi maupun dari pengalaman sebelumnya. Sedangkan pendekatan berbasis kekuatan merupakan kebalikan dari pendekatan berbasis kekurangan. 

Guru atau seseorang dalam menghadapi sebuah permasalahan, akan selalu berpikir positif dan optimis, sehingga setiap kekurangangan yang ada bukan sebuah masalah, dia akan melihat sisi positif, nilai lebih yang  menjadi aset/kekuatan yang bisa dijadikan faktor pendukung yang mampu mensukseskan berjalannya sebuah acara. 

Dari paradigma positif tersebut, maka dia tidak akan menggantungkan kebutuhan kegiatan itu pada orang lain, tapi mencari peluang bagaimana supaya kebutuhan tersebut bisa diatasi. Dan pendekatan aset ini digunakan sebagai dasar paradigma inquiri apresiatif. Seorang guru sebagai agen of change, pemimpin perubahan, sudah selayaknya menggunakan pendekatan ini melalui inquiri apresitif tahapan BAGJA untuk memulai melakukan transformasi pendidikan.

Ketiga yaitu aset-aset atau modal utama. Ada tujuh aset yang dapat dijadikan salah satu alat membantu mengemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah yaitu modal manusia (kepala sekolah,guru, murid, komite, masyarakat sekitar, dan tenaga kependidikan), modal sosial (norma/aturan yang mengikat, kepercayaan, komunitas. 

Modal politik (aktifitas dekmokrasi, SDM yang dapat mempengaruhi kebijakan), modal agama dan budaya (kegiatanritual  keagamaa, kebudayaan), modal fisik (ruang kelas, lab, ruang pertemuan, musolla, toliet, saluran pembuangan/air, alat transportasi, jalur komunikasi/transportasi, dll). Modal lingkungan/alam (potensi alam sekolah yang belum di olah, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dll) dan yang terakhir modal finansial (keuangan, pengetahuan bagaimana menghasilkan uang)

Senang sekali bisa mengenal dan mempelajari materi ini. Ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan saya sebagai guru yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran. 

Dengan materi ini, saya jadi tahu bahwa aset sekolah bisa dijadikan modal utama dalam mencapai sebuah visi sekolah dengan sukses. Bagaimana kita bijak dan trampil dalam mengelola aset sekolah dan memanfaatkan sebaik-baiknya secara bijak untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid, untuk membantu siswa menemukan kemerdekaan belajarnya, untuk menanamkan karakter mulia dan budi pekerti luhur ada siswa. 

Hal lain yang tak kalah menarik, bahwa aset ternyata tak hanya yang bagian dari sekolah yang berwujud, tapi juga yang tak berwujud, aset tak hanya yang ada dalam lingkungan sekolah atau terintegrasi dengan sekolah, tapi lingkungan alam, masyarakat, agama dan budaya, politik juga termasuk dalam 7 aset sebagaimana kerangka pemikiran dari Green dan Haines (dalam modul 3.2 PGP, 2022).

Sungguh ilmu baru yang menarik, lebih membuka wawasan saya sebagai seorang guru yang berperan menjadi pemimpin pembelajaran dan perubahan, dan saat ini dituntut untuk menjadi pemimpin dalam pengolahan sumber daya. Untuk mampu memimpin dalam pengolahan sumber daya  yang menjadi aset sekolah, maka sebagai bagian dari sekolah tersebut, wajib bagi saya untuk mengenali satu persatu bersama rekan guru dan warga sekolah lainnya, sumber daya apa saja yang telah dimiliki sekolah kami, yang kiranya akan menjadi modal utama bagi sekolah kami dalam mewujudkan visi sekolah, dalam mewujudkan pendidikan yang berpihak dan murid dan membantu siswa mencapai kemerdekaan belajarnya. Dan berangkat dari mengidentifikasi kemudian mengklasifikasi aset-aset sekolah, maka kita akan dengan mudah menentukan, bagaimana aset-aset tersebut agar bisa dimanfaatkan, dikembangkan secara maksimal untuk kebutuhan dan kepentingan belajar siswa.

Dalam setiap perubahan, pasti ada kendala dan  hambatan. Hambatan dan kendala yang kami hadapi dalam memanfaatkan sumber daya sekolah adalah, pertama, kurangnya kesadaran warga sekolah untuk memaksimalkan potensi-potensi yang ada, sehingga potensi itu kurang dapat dirasakan manfaatnya, kurang dimanfaatkan secara maksimal. 

Kedua, kolaborasi yang masih kurang antar sesama komponen biotik dalam sekolah. Ketika kolaborasi kurang maksimal, maka apa yang menjadi tujuan dari kebermanfaatan aset sekolah tersebut kurang maksimal, bahkan ada aset-aset sekolah yang tidak dimanfaatkan  untuk mendukung proses pembelajaran yang berpihak pada murid.  Ketiga minimnya pengetahuan dan ketrampilan serta keterbatasan waktu dalam menggunakan dan memanfaatkan aset sekolah tersebut, misalnya dalam pengolahan sarana dan prasarana pembelajaran seperti lab, alat-alat peraga.

Berangkat dari identifikasi dan klasifikasi aset sekolah, hambatan-hambatan yang kami hadapi, dan manfaat besar yang bisa kami dapatkan dari aset-aset tersebut, kita harus memaksimalkan pemanfaatan, penggunaan aset aset tersebut, melalui perintah atasan, bimbingan, dan kesadaran. Agar aset-aset tersebut bisa berguna, bisa digunakan dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran yang berpihak pada murid dan memerdekakan murid.

Pada akhirnya satu hal yang dapat saya simpulkan, sekolah sebagai sebuah ekosistem tentu memiliki aset-aset yang bisa jadi kekuatan tersendiri bagi sekolah tersebut, dan aset itu dapat menjadi modal utama dan kekuatan sekolah jika kita sebagai guru mampu memaksimalkan dalam pengolahannya.

 

Terima kasih . . .

DIRI TERGERAK

KITA BERGERAK

MARI MENGGERAKAN

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.1


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN

Oleh : Tami Nurhadi

CGP_10 Kab. Kepulauan Anambas

 

Assalamualaikum,. Pada kesempatan ini saya akan menulis mengenai Jurnal Refleksi Dwi Mingguan pada modul 3.1 tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. Jurnal ini sebagai refleksi diri setelah selama dua minggu ke-2 mengikuti kegiatan Pendidikan CGP yang kedepannya akan ditulis secara rutin selama dua mingguan sebagai tugas yang harus dikerjakan oleh calon guru penggerak.

Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (Fact, Feeling, Findings, dan Future, yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P yakni : Peristiwa; Perasaan; Pembelajaran; dan Penerapan.

  1. Fact (Peristiwa)

Saya memiliki pengalaman yang sangat positif dalam mengikuti pembelajaran di modul 3.1 ini. Saya mengikuti tahapan pembelajaran yang diatur dengan urutan MERDEKA seperti pada modul-modul sebelumnya. Kata MERDEKA sendiri adalah singkatan dari langkah-langkah belajar yang harus dilalui, yaitu Mulai dari diri, Eksplorasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi konsep, Ruang kolaborasi, Demonstrasi kontekstual, Elaborasi pemahaman, Koneksi antar materi, dan Aksi nyata.

Pada tahap “Mulai dari diri”, saya melakukan kegiatan untuk membangkitkan pengetahuan awal saya dan mengamati keterampilan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan yang harus mempertimbangkan berbagai pihak yang terlibat, seperti murid, orang tua/wali murid, guru, pengawas, dan pihak komunitas sekolah.

Tahap eksplorasi konsep adalah saat saya melakukan eksplorasi mandiri untuk memahami konsep pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin di sekolah, yang bertujuan untuk menjadikan institusi sekolah sebagai institusi moral. Saya juga menjelaskan pentingnya pemimpin dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada tiga unsur, yaitu berpihak pada murid, bertanggung jawab, serta didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal. Selain itu, saya juga menganalisis nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam sebuah pengambilan keputusan yang menghadapi dilema etika.

Pada tahap ruang kolaborasi, saya berpartisipasi dalam kolaborasi di ruang virtual dengan rekan-rekan CGP lainnya, dengan tujuan untuk saling berbagi, berkolaborasi, dan menerapkan keterampilan pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Setelah melakukan tahap demonstrasi kontekstual, saya melakukan analisis tentang bagaimana proses pengambilan keputusan diterapkan berdasarkan pengetahuan yang saya pelajari tentang paradigma, prinsip, pengambilan dan pengujian keputusan di sekolah asal saya dan di sekolah/lingkungan lain. Saya melakukan wawancara dengan dua kepala sekolah yang berbeda untuk mengetahui praktik pengambilan keputusan yang biasa dilakukan oleh mereka.

Saya mengalami sedikit tantangan saat melaksanakan tugas wawancara dengan dua kepala sekolah yang berbeda sebagai bagian dari tujuh tahapan pengalaman belajar. Namun, saya berhasil mengatasi tantangan tersebut dengan membuat pertanyaan yang bermakna dan relevan dengan tujuan saya. Saya merasa berhasil melakukan tugas tersebut sesuai dengan rencana dan sampai saat ini segala sesuatu berjalan dengan baik.

  1. Perasaan (Feeling)

Saya merasa bersyukur selama proses belajar karena saya mempelajari ilmu pengetahuan baru yang sangat penting bagi seorang pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang guru penggerak, saya harus memimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, melatih guru lain, mempromosikan kolaborasi antara guru, dan memajukan kepemimpinan siswa. Untuk melakukan tugas tersebut dengan baik, saya harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang didasarkan pada nilai-nilai kebajikan. Seperti yang saya pelajari, seorang guru penggerak harus memiliki nilai-nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan mendukung murid. Ketika mengambil keputusan, seorang pemimpin harus mempertimbangkan tiga unsur penting, yaitu mendukung murid, bertanggung jawab, dan didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal. Selama mempelajari konsep materi dari awal hingga modul ini, saya menemukan banyak keterkaitan yang membantu saya memahami konsep tersebut dengan lebih baik dan membentuk pemahaman baru bagi saya.

  1. Pembelajaran (Findings)

Saya belajar dari modul 3.1 bahwa sebagai seorang pemimpin, pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan adalah suatu keterampilan yang sangat penting. Dalam pengambilan keputusan, terkadang terdapat banyak kepentingan yang saling bersinggungan dan dapat menyebabkan beberapa pihak merasa dirugikan atau tidak puas dengan keputusan yang diambil. Namun, semakin sering kita melakukan pengambilan keputusan, semakin terlatih dan fokus dalam mengambil keputusan yang tepat. Meskipun sulit untuk memilih antara beberapa pilihan yang benar, sebagai pemimpin, kita harus mempertimbangkan tiga unsur penting dalam pengambilan keputusan, yaitu mendukung murid, didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal, dan bertanggung jawab atas semua konsekuensi dari keputusan yang diambil.

Ketika kita berada dalam situasi dilema etika, terdapat nilai-nilai kebajikan mendasar yang saling bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab, dan penghargaan akan hidup. Dalam paradigma situasi dilema etika, terdapat kategori seperti individu vs kelompok, keadilan vs kasih sayang, kebenaran vs kesetiaan, serta jangka pendek vs jangka panjang. Terdapat tiga prinsip pengambilan keputusan yang dapat digunakan dalam menghadapi dilema etika, yaitu berpikir berdasarkan hasil akhir, berpikir berdasarkan peraturan, dan berpikir berdasarkan rasa peduli.

Dalam menghadapi situasi dilema etika atau bujukan moral yang membingungkan, terdapat 9 langkah yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengambil keputusan dan menguji keputusan yang akan diambil. Pertama, mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi tersebut. Kedua, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tersebut. Ketiga, mengumpulkan fakta-fakta relevan yang berkaitan dengan situasi tersebut. Keempat, melakukan pengujian benar atau salah dengan menguji legalitas, regulasi/standar profesional, intuisi, publikasi, dan panutan/idola. Kelima, melakukan pengujian paradigma benar lawan benar. Keenam, melakukan prinsip resolusi. Ketujuh, melakukan investigasi opsi trilemma. Kedelapan, membuat keputusan. Dan terakhir, kesembilan, melihat kembali keputusan dan merenungkannya kembali. Perlu diperhatikan bahwa sembilan langkah pengambilan keputusan ini adalah panduan, bukan sebuah metode yang kaku dan harus diadaptasi dengan situasi yang sedang dihadapi.

  1. Penerapan (Future)

Saya akan mengaplikasikan konsep pengambilan keputusan yang telah dipelajari, termasuk empat paradigma, tiga prinsip, dan sembilan langkah, untuk meningkatkan keterampilan saya dalam membuat keputusan. Selain itu, saya akan berbagi pengetahuan tentang materi baru yang telah dipelajari melalui berbagai media, baik secara langsung maupun melalui platform digital agar dapat diakses dengan mudah oleh rekan-rekan guru lainnya.

ini adalah hasil refleksi dari pengalaman dan pemahaman saya selama dua minggu belajar di modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin. Saya berharap tulisan ini dapat memberikan pencerahan dan manfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi saya sendiri.

 

Senin, 12 Agustus 2024

Kesimpulan dan Keterkaitan Materi

 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin


 

Oleh: Tami Nurhadi


Filosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara

Pada modul 3.1 ini mempelajari tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Ki Hajar Dewantara yaitu:

Ing Ngarsa sung tuladha yang artinya di depan memberi contoh. Sebagai pemimpin pembelajaran, Guru harus dapat memberi contoh terhadap murid- muridnya, terhadap rekan kerja dan lingkungan masyarakat, sehingga keputusan yang diambil harus mencerminkan sebagai pemimpin pembelajaran yang dapat menjadi contoh yang baik atau teladan bagi murid, rekan Guru dan lingkungan masyarakat.

Ing Madya mangun karsa yang artinya di tengah memberikan inspirasi bagi murid, rekan Guru dan lingkungan masyarakat. Dalam pengambilan keputusan pasti akan ada pertimbangan bahwa apakah keputusan yang diambil bisa menjadi inspirasi bagi murid, rekan Guru dan masyarakat? lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Tut Wuri Handayani artinya di belakang memberikan dorongan. Sebagai pemimpin pembelajaran Guru dalam mengambil keputusan harus bisa mendorong murid, rekan kerja dan masyarakat kepada hal yang baik, yang bermanfaat buat kemajuan Pendidikan di Indonesia.

 

Prinsip Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai Kebaikan Diri.

Nilai kebaikan yang kita pegang selam ini digunakan untuk pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Misalnya nilai kebaikan yang saya pegang adalah nilai kejujuran, empati, tanggung jawab, inspiratif dan selalu berbagi. Sehingga semua keputusan yang saya ambil harus sesuai dengan nilai kebaikan yang saya pegang, hal ini membuat keputussn yang saya ambil akan sesuai dengan kepribadian dan prinsip hidup saya. Jika keputusan yang kita ambil sesuai dengan prinsip hidup kita, maka keputusan itu akan kita laksanakan dengan baik dan penuh tanggung jawab. 

 

Pengujian Keputusan yang diambil dengan praktik Coaching

Dalam rangka untuk menguji keputusan yang diambil, kita bisa gunakan dengan metode coaching. Metode coaching merupakan metode bukan menggurui tetapi lebih untuk memunculkan kekuatan diri, sehingga solusi berasal dari coachee bukan dari coach. Pada saat keputusan yang kita ambil, terkadang ada banyak pertanyaan apakah keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik, atau apakah keputusan kita sudah efektif dan efisien, maka kita bisa menggunakan dengan praktik coaching model TIRTA, dimana kita melakukan pengujian keputusan dengan tahap menemukan tujuan umum, menemukan identifikasi masalah, sehingga keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan dan semua itu bukan berasal dari coach tetapi dari coachee sebagai pembuat keputusan.

 

Kemampuan Guru dalam Pengambilan Keputusan berdasarkan Aspek Sosial Emosional

Salah satu tujuan pembelajaran sosial emosional adalah membuat keputusaan yang bertanggung jawab dan menunjukkan rasa empati terhadap orang lain. Untuk itu sebagai pemimpin pembelajaran Guru harus dapat membuat keputusan yang dapat di pertanggungjawabkan dan tetunya mengandung rasa empati terhadap murid, rekan kerja ataupun masyarakat sehingga keputusan yang diambil membuat semua nyaman, tidak merugikan orang lain. Untuk itu sebagai Guru kita harus bisa menjalankan pembelajaran sosial emosional, agar-agar murid- murid kita juga nantinya akan dapat membuat keputusan yang dapat di pertanggungjawabkan dan mempunyai rasa empati terhadap sesama. 

 

Pembahasan Studi Kasus Moral dan Etika sesuai dengan Nilai yang di anut oleh Guru

Pada pengambilan keputusan pada kasus moral etika, di sesuaikan dengan nilai kebaikan yang di anut oleh Guru sehingga Guru dapat membuat keputusan yang tepat dan dapat memperbaiki moral etika peserta didiknya, bila memang terjadi penyimpangan, atau paling tidak sebagai bahan pencegahan agar tidak terjadi pelanggaran moral etika. Sebagai Guru kita harus bisa menjadi contoh yang baik untuk para murid kita, rekan Guru dan lingkungan masyarakat sehingga seorang Guru yang di gugu dan di tiru benar- benar dapat tercapai. 

 

Ketepatan Pengambilan Keputusan berdampak pada Lingkungan yang Positi, Kondusif, Aman dan Nyaman

Pengambilan keputusan yang tepat akan menjadi keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Keputusan yang tepat akan mebuat semua orang yang berhubungan kan merasa nyaman, aman, dan pastinya lingkungan akan kondusif, semua bisa menerima dengan baik dan ikhlas. Akhirnya keputusan yang diambil akan berdampak pada kondisi lingkungan yang kondusif, aman, dan Nyaman.

 

Kesulitan- kesulitan dalam Pengambilan Keputusan di Lingkungan Sekolah

Kesulitan yang dialami pada saat mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran adalah :

Tidak semua murid, rekan kerja atau pun masyarakat dapat menerima dengan ikhlas keputusan yang kita ambil.

Pasti ada pro dan kontra terhadap keputusan yang kita ambil

Bila keputusan yang diambil terlalu sesuai aturan, maka kita akan berhadapan dengan orang- orang yang terbiasa melanggar peraturan dan itu dianggap hal yang wajar.

Keputusan yang kita ambil bisa membuat kita tidak di sukai oleh murid, rekan Guru ataupun masyarakat.

Untuk mendapatkan kesepakatan bersama akan susah bila setiap individu mempunyai ego masing- masing. 

 

Pengaruh Pengambilan Keputusan dengan Pembelajaran berpihak Murid

Pengambilan keputusan yang tepat harus di dasarkan pada kepentingan murid, harus bisa berpihak pada murid. Misalnya kepentingan murid lebih di utamakan daripada kepentingan pribadi. Semua pengambilan keputusan dikembalikan lagi ke arah murid, apakah murid menyetujui, apakah berpihak pada murid, apakah lebih mengutamakan kepentingan murid, apakah membuat semua murid nyaman? apakah dapat mengoptimalkan potemnsi yang dimiliki oleh murid? semua pertanyaan itu dapat menjawab apakah keputusan yang diambil berpihak pada murid atau tidak. Dan tentunya bila keputusan yang diambil menggunakan 9 langkah dalam pengambilan keputusan maka dapat dipastikan keputusan tersebut berpihak pada murid.

 

Pengambilan Keputusan Seorang Pemimpin Pembelajaran dapat Mempengaruhi Masa Depan Murid- murid.

Keputusan yang diambil Guru sebagai pemimpin pembelajaran  pasti akan berpengaruh terhadap masa depan murid, sehingga keputusan tersebut harus berpihak pada murid, dan tentunya dapat mengoptimalkan potensi murid sehingga keputusan tersebut sangat bermanfaat dan berpengaruh terhadap masa depan murid.

Keputusan yang dapat membuat murid dapat mengetahui bakat minatnya sehingga murid dapat mandiri dengan kehidupannya.

 

Kesimpulan Pembelajaran Modul 3.1 Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Kesimpulan pembelajaran modul 3.1 Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan materi yang wajib dikuasai oleh setiap Guru karena sangat bermanfaat, untuk Guru, rekan Guru yang lain, peserta didik dan lingkungan masyarakat. Pada saat kita mengalami dilema etika, kita harus memilih salah satu diantara 2 hal yang baik dan benar, maka kita harus memahami paradigma dilema etika, prinsip pengambilan keputusan dan tentunya 9 langkah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Setalah kita mengambil keputusan, kita akan uji keputusan tersebut dengan praktik Coaching model TIRTA. Dan selain itu kita juga harus dapat mempraktikkan pembelajaran sosial dan emosional sehingga keputusan yang diambil bermanfaat untuk semua murid, rekan Guru dan Masyarakat. Semua itu kita lakukan karena kita memegang prinsip kebaikan, kita mengikuti filosofi Ki Hajar Deantara, pembelajaran yang berpihak pada murid dengan 3 semboyan Ki hajar Dewantara yang menjadi pedoman Guru menjadi pengajar dan pemimpin pembelajaran. 

Rabu, 24 Juli 2024

JURNAL REFLEKSI


JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 2.3

Oleh: Tami Nurhadi


Pembelajaran pada modul 2.3 ini adalah Coaching Untuk Supervisi Akademik. Calon guru penggerak mempelajari tentang apa itu coaching, perbedaan anatar coaching, mentoring, fasilitasi, training, dan konseling.  Selain itu juga mempelajari alur TIRTA sebagai pedoman maupun langkah-langkah dalam menerapkan coaching, kompetensi inti dan prinsip dalam coaching, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan coaching untuk supervisi akademik. Pada tahap alur belajar merdeka "Mulai dari diri", CGP diminta untuk menuliskan tentang refleksi dari pengalaman dan perasaan saat disupervisi oleh pimpinan. Bahkan juga pengalaman mensupervisi rekan sejawat serta merefleksikan makna supervisi bagi pengembangan profesi sebagai seorang pendidik. 

Tahap Eksporasi Konsep, banyak sekali materi yang saya dapatkan tentang apa itu coaching, bagaimana menerapkannya dan prosesnya dalam supervisi akademik. Apa yang CGP pelajari secara mandiri melalui LMS ditebalkan juga dengan adanya forum diskusi pada akhir materi yang telah dipelajari dengan sesam CGP lain dan juga ditebalkan oleh fasilitator. Pembelajaran memlaui video juga menambah pemahaman tentang teknik coaching. Selanjutnya dalam tahap Ruang Kolaborasi, CGP bekerjasama satu sama lain untuk berlatih coaching dalam penerapa materi modul 2.3 dengan proses virtual. CGP saling bergantian satu sama lain menjadi seorang coach maupun seorang coachee dalam prakteknya. Setelah proses coachingpun CGP melakukan refleksi dan umpan balik sebagai bahan perbaikan praktek coaching di demontrasi kontekstual.

Tahapan selanjutnya yaitu demonstrasi kontekstual, dimana CGP membentuk kelompok yang terdiri dari 3 orang yang saling bergantian satu sama lain menjadi coach maupun coachee dan mengamati untuk bisa saling memberikan umpan balik sehingga memantabkan pemahaman terhadap coaching dengan alur TIRTA. Selanjutnya juga dilakukan Elaborasi Konsep dengan instruktur yang sangat menarik untuk memupuk pemahaman pembelajaran coaching untuk supervisi akademik. Tahap yang selanjutnya koneksi antar materi, dimana CGP dapat merefleksikan diri dengan dengan mengaitkan materi modul 2.3 dengan modul 2.1 dan 2.2. Tahap yang terakhir yaitu Aksi Nyata, dimana saya melakukan supervisi terhadap rekan sejawat saya disekolah dengan menerapkan proses coaching untuk supervisi akademik yang melalui tahapan pra observasi, observasi proses pembelajaran, dan tahap percakapan pasca observasi.

Supervisi yang saya lakukan berfokus pada proses pembelajaran yang berpihak pada murid. Supervisi akademik juga bertujuan untuk pengembangan komptensi diri dalam setiap pendidik disekolah. Bersamaan dengan pembelajaran modu 2.3 ini bertepatan dengan pendampingan individu dimana dilaksanakan dengan forum diskusi bersama dewan guru dan juga kepala sekolah yang tentunya juga pengajar praktik yang ikut hadir. Dalam pelaksanaan forum diskusi ini disambut postif oleh semuanya sehingga bersama -sama memunculkan semangat baru untuk menyongsong sekolah menjadi bergerak lebih baik daripada sebelumnya.

Diawal mempelajari modul 2.3 ini saya sempat bingung karena banyaknya tugas dan video yang disajikan. Akan tetapi setelah mengikuti alurnya secara bertahap saya dapat memahami materi yang ada dalam modul. Saya merasa senang dan bersemangat setelah mendapatkan pemahaman dan pengetahuan dari coaching ini untuk saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari baik itu dengan murid maupun juga dengan rekan sejawat untuk lebih dapat membantu menemukan solusi dari apa yang dihadapinya dengan mnuntun untuk dapat menggali dengan sendirinya.

Melalui modul 2.3 ini pembelajaran yang saya dapatkan adalah pengalaman baru dalam menerapkan proses coaching melaui alur TIRTA. Dengan adanya coaching ini menjadikan saya lebih terlatih dalam menggunakan pendekatan berpikir kritis sehingga bisa memberikan pertanyaan yang bermakna untuk menuntun coachee menemukan sendiri apa yang menjadi solusi terhadap masalah yang dihadapi. Pembelajaran coaching ini juga sebagai sarana komunikasi antara guru dan murid sehingga  memberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan potensinya agar tidak kehilangan arah  dan membahayakan dirinya.

Setelah saya mempelajari modul 2.3 ini akan saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari secara umum dilingkungan sekkitar saya dan  khususnya dilingkungan sekolah. Hal ini akan saya terapkan karena dengan adanya coaching ini akan dapat menggali potensi setiap individu dan mengarahakan coachee untuk menemukan solusinya sendiri terhadap masalah yang dihadapinya. Selain itu saya juga akan berlatih secara terus menerus agar dapat cakap dalam menerapkan coaching guna membantu sesama.

Minggu, 21 Juli 2024

KONEKSI ANTAR MATERI


 Koneksi Antar Materi Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik

Oleh: TAMI NURHADI


Koneksi antar materi merupakan penguasaan pemahaman calon guru penggerak (CGP) terhadap materi yang telah dipelajari dengan mengaitkan materi awal sampai dengan materi yang terakhir.

Penyampaian keterkaitan materi itu menandakan sejauh mana penguasaan dan pemahaman terhadap materi tersebut. CGP menyimpulkan dan menjelaskan keterkaitan materi yang diperoleh dan membuat refleksi berdasarkan pemahaman yang dibangun selama modul 2 dalam berbagai media.

Konsep Coaching secara Umum: Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).

Coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya (Whitmore, 2003). Coaching sebagai “…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.” (International Coach Federation -ICF).

Coaching dalam Konteks Pendidikan: Tujuan pendidikan itu ‘menuntun’ tumbuhnya atau hidupnya kekuatan kodrat anak sehingga dapat memperbaiki lakunya. Keterampilan coaching perlu dimiliki para pendidik untuk menuntun segala kekuatan kodrat (potensi) agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia maupun anggota masyarakat.

Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.

Paradigma Berfikir Coaching: Tindakan untuk dapat membantu rekan sejawat untuk mengembangkan kompetensi diri mereka dan menjadi otonom, pentingnya perlu memiliki paradigma berpikir coaching terlebih dahulu.

Paradigma tersebut adalah (1) Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, (2) Bersikap terbuka dan ingin tahu, (3) Memiliki kesadaran diri yang kuat, (4) Mampu melihat peluang baru dan masa depan.

Prinsip Coaching: (1) Kemitraan adalah posisi coach terhadap coachee-nya adalah mitra. Itu berarti setara dalam coaching, tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.

Coachee adalah sumber belajar bagi dirinya sendiri. Coach merupakan rekan berpikir bagi coachee-nya dalam membantu coachee belajar dari dirinya sendiri. (2) Proses kreatif adalah dilakukan melalui percakapan, yang dua arah, memicu proses berpikir coachee, memetakan dan menggali situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide baru.

(3) Memaksimalkan potensi adalah memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan.

Kompetensi Inti Coaching: (1) Mengajukan pertanyaan berbobot adalah mengajukan pertanyaan dengan tujuan tertentu atau pertanyaan berbobot.

Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi.

(2) Mendengarkan dengan aktif adalah kemampuan untuk fokus pada apa yang dikatakan oleh lawan bicara dan memahami keseluruhan makna yang tidak terucap.

(3) Kehadiran penuh (presence) adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh pada coachee, atau di dalam coaching disebut sebagai coaching presense sehingga badan, pikiran, hati, selaras saat sedang melakukan percakapan coaching. Kehadiran penuh ini adalah bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching.

Alur Percakapan TIRTA: Tirta berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. Sebagai seorang coach salah satu peran terpentingnya adalah membantu coachee.

TIRTA terdari dari Tujuan awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee. Identifikasi dimana coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.

Rencana Aksi dimana pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat. Tanggungjawab dimana membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya.

Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching: Dalam pelaksanaannya ada dua paradigma utama dalam menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu.

Prinsip supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi kemitraan, proses kolaboratif antara supervisor dan guru, konstrukti bertujuan mengembangkan kompetensi individu, terencana, reflektif, objektif, informasi diambil berdasarkan sasaran yang sudah disepakati, berkesinambungan, komprehensif: mencakup tujuan dari proses supervisi akademik.

Sedangkan pelaksanaan supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni perencanaan, pelaksanaan supervisi, dan tindak lanjut. Tahap perencanaan, supervisor merumuskan tujuan, melihat pada kebutuhan pengembangan guru, memilih pendekatan, teknik, dan model, menetapkan jadwal, dan mempersiapkan ragam instrumen.

Dalam tahapan pelaksanaan supervisi akademik adalah observasi pembelajaran di kelas atau yang biasanya kita sebut sebagai supervisi klinis. Tahap tindak lanjut, berupa kegiatan langsung atau tidak langsung seperti percakapan coaching, kegiatan kelompok kerja guru di sekolah, fasilitasi dan diskusi, serta kegiatan lainnya dimana para guru belajar dan memiliki ruang pengembangan diri lewat berbagai kegiatan.

Pemikiran reflektif terkait pengalaman belajar

Emosi yang dirasakan adalah termotivasi untuk lebih giat belajar mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang coaching untuk supervisi akademik dan semakin banyak melakukan praktik coaching maka akan semakin terasah kemampuan kita sebagai coach untuk hadir penuh (presence), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot.

Terdapat tantangan untuk menerapkan praktik coaching secara berkelanjutan dengan murid atau rekan sejawat agar mendapatkan ketrampilan coaching untuk supervisi akademik. Hal yang sudah baik adalah memperoleh pemahaman dan pencerahan tentang materi coaching untuk supervisi akademik dan sudah mempraktikkannya.

Hal yang perlu diperbaiki adalah langkah-langkah yang baik dan bijak pada mengajukan pertanyaan yang berbobot kepada coachee. Keterkaitan terhadap kompetensi dan kematangan diri pribadi adalah mengoptimalkan kekuatan diri sebagai seorang pendidik yang mampu menjadi coach dan melakukan coaching bagi orang-orang di lingkungan sekitar.

Keterkaitan materi modul 2.1 tentang Pembelajaran Berdiferensiasi dan modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial Emosional (PSE), jika dihubungkan dengan materi coaching maka pembelajaran berdiferensiasi dimana guru harus berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang terdiri dari kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar siswa.

Langkah untuk memetakan kebutuhan individu siswa tersebut, guru bisa berperan sebagai coach untuk melakukan proses coaching dengan siswa sebagai coachee. Hal tersebut mampu mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri siswa sehingga akan menemukan cara terbaik dalam memenuhi kebutuhan individu siswa.

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) yang harus dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah untuk menumbukan kompetensi tentang kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab pada diri siswa. Proses coaching sejalan dengan PSE karena kompetensi sosial emosional tersebut dapat diterapkan oleh guru dalam proses coaching kepada siswa.

Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin pembelajaran. Terdapat 4 macam paradigma berpikir coaching, yaitu: (1) fokus pada coachee (rekan yang akan dikembangkan, (2) bersikap terbuka dan ingin tahu, (3) memiliki kesadaran diri yang kuat, dan (4) mampu melihat peluang baru dan masa depan.

Juga 3 kompetensi inti yang penting dipahami, diterapkan, dan dilatih secara terus menerus saat melakukan percakapan coaching kepada teman sejawat di sekolah, yaitu: (1) kehadiran penuh (presence), (2) mendengarkan aktif (menyimak), dan (3) mengajukan pertanyaan berbobot.

Salah satu referensi yang dapat kita gunakan untuk mengajukan pertanyaan berbobot hasil dari mendengarkan aktif yaitu RASA yang diperkenalkan oleh Julian Treasure.

RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate, Summarize, dan Ask. Dimana R (Receive/Terima), yang berarti menerima/mendengarkan semua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan kata kunci yang diucapkan.

A (Appreciate/Apresiasi), yaitu memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak mata atau melontarkan kata. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan situasi lain.

S (Summarize/Merangkum), saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama. Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee.

A (Ask/Tanya), coach mengajukan pertanyaan berbobot berdasarkan apa yang didengar dan hasil merangkum (summarizing), membuat pemahaman coachee lebih dalam tentang situasinya, hasil mendengarkan yang mengandung penggalian atas kata kunci atau emosi yang sudah dikonfirmasi, dan pertanyaan terbuka: menggunakan apa, bagaimana, seberapa, kapan, siapa atau di mana dan hindari menggunakan pertanyaan tertutup: “mengapa” atau “apakah” atau “sudahkah”.

Jika keterampilan coaching sudah meningkat maka pengembangan kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran akan meningkat pula. Percakapan-percakapan coaching membantu para guru berpikir lebih dalam (metakognisi) dalam menggali potensi yang ada dalam diri dan komunitas sekolahnya sekaligus menghadirkan motivasi internal sebagai individu pembelajar yang berkelanjutan yang akan diwujudnyatakan dalam buah pikir dan aksi nyata demi tercapainya kualitas pembelajaran yang berpihak pada murid.

 

Senin, 08 Juli 2024

MULAI DARI DIRI MODUL 2.3

COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Oleh : TAMI NURHADI



1. Selama menjadi guru tentunya pembelajaran saya pernah di supervisi oleh kepala sekolah, perasaan saya saat mendengar akan disupervisi tentunya sangat khawatir, deg- degan padahal kegiatan ini sebenarnya rutin di lakukan. entah mengapa masih ada perasaan tidak nyaman mendengar kata "SUPERVISI" Supervisi biasanya akan dijadwalkan oleh pihak kurikulum, dan saat pelaksanaan supervisi merasa deg-degan karena takut apakah proses pembelajaran yang saya lakukan masih banyak kekurangan atau tidak. Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi?

 

Pengalaman saya saat observasi dan pasca observasi Sesuai jadwal yang telah ditentukan oleh kurikulum saya membawa semua berkas administrasi /perangkat pembelajaran keruang kepala sekolah, alhamdulillah perangkat pembelajaran yang telah saya siapkan telah lengkap hanya saja pada buku kerja 3 yaitu bank soal dan analisisnya. setelah itu saya di supervisi dengan masuk ke kelas IX-1 dengan membawa RPP yang sudah di telaah. Dari kegiatan supervisi saya banyak belajar banyak instrumen pembelajaran yang belum sempurna, sehingga saya menjadikan supervisi ini sebagai refleksi untuk memperbaiki diri baik dari segi administrasi maupun kegiatan belajar mengajar di kelas.

 

2. Pengalaman saat diobservasi yaitu saya melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah saya susun. Kepala sekolah meneliti dan memeriksa apakah pembelajaran yang saya lakukan sesuai dengan RPP yang saya susun. Kegiatan pasca observasi yaitu kepala sekolah memberikan saran dan kritik yang membangun agar RPP dan pembelajaran yang saya lakukan lebih baik lagi ke depannya.

 

3. Proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Saya berkembang sebagai seorang
pendidik, antara lain: Supervisor bersikap terbuka, memahami kondisi di kelas, dan memberikan evaluasi.
Supervisi dilaksanakan secara teratur dan berkelanjutan. Supervisi tidak bertujuan untuk mencari kesalahan, tetapi mampu mengembangkan kreativitas dan memecahkan permasalahan.

 

4. Jika Saya saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi. Posisi Saya sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s/d 10 adalah saya masih berada di posisi 6, karena saya belum berpengalaman melakukan kegiatan supervisi. Saya masih memerlukan bimbingan dan arahan agar dapat melakukan supervisi dengan baik.

5. Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu, antara lain: memahami teknik supervisi yang baik pengetahuan mendalam terkait supervisi bimbingan dan arahan dari kepala sekolah

 

Setelah Anda menjawab pertanyaan- pertanyaan reflektif, tuliskan harapan Anda terkait modul ini :

a. Harapan yang ingin saya lihat pada diri saya sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini adalah saya mampu memahami seluruh materi yang ada di modul 2.3 ini sehingga saya mampu melaksanakan praktik coaching dengan baik. Saya juga berharap dapat melakukan praktikmentoring, konseling, dan fasilitasi di sekolah. Hal ini akan menguatkan peran saya sebagai pemimpin pembelajaran.

b. Kegiatan, materi, manfaat yang saya harapkan ada dalam modul ini adalah: Materi yang saya harapkan yaitu
modul yang berisi tentang pengetahuan dan pengalaman yang menggambarkan praktik coaching Manfaat yang saya harapkan yaitu modul ini membantu saya memerankan diri sebagai coach bagi murid atau rekan guru. Kegiatan yang saya harapkan di modul ini yaitu praktik kolaborasi coacing supervisi akademik.

Minggu, 30 Juni 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 2.2



PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

Oleh : Tami Nurhadi

CGP Angkatan_10 Kabupaten Kepulauan Anambas

 

"Mendidik Pikiran Tanpa Mendidik Hati Adalah Bukan Pendidikan Sama Sekali"

(Aristoteles, Filsuf)

Melakukan refleksi dan menuliskannya dalam Jurnal merupakan suatu kebutuhan bagi kami, para Calon Guru Penggerak (CGP), setiap selesai mempelajari satu modul agar dapat mengukur sejauh mana pemahaman kami terhadap modul tersebut. Pada Jurnal Refleksi Modul 2.2, yaitu tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE), saya menggunakan model Gaya Round Robin untuk memperkaya pengalaman dalam menulis. Pada refleksi di modul-modul sebelumnya, saya telah menggunakan model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future), 4C (Connection, Challenge, Concept, Change), Segitiga Refleksi, Driscoll, dan Description, Examination and Articulation of Learning).  

1. Apa hal yang paling Anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Mengapa Anda merasa hal tersebut bisa membuat Anda sangat menguasainya?

Minggu berselancar di Modul 2.2 (PSE), yaitu mengenai hubungan kompetensi sosial dan emosional dengan peran saya sebagai pendidik dan dengan pembelajaran murid. Pada pembelajaran ini saya menguasai di antaranya definisi pembelajaran sosial dan emosional, kompetensi sosial dan emosional, kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar penguatan 5 kompetensi sosial dan emosional serta implementasi pembelajaran sosial dan emosional di kelas dan sekolah. 

Adapun implementasi pembelajaran sosial dan emosional di kelas dan sekolah dapat diberikan melalui :

·       Pengajaran eksplisit

·       Integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik

·       Menciptakan iklim kelas dan budaya sekolah

·       Penguatan kompetensi sosial dan emosional Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di sekolah

Sedangkan 5 kompetensi sosial dan emosional yang harus dikuasai, baik oleh PTK maupun murid adalah :

Ø  Kesadaran diri

Ø  Manajemen diri

Ø  Kesadaran sosial

Ø  Keterampilan berelasi

Ø  Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Saya merasa bisa sangat menguasai konsep Pembelajaran Sosial dan Emosional ini karena saya dan teman-teman CGP memulai perjalanan di modul ini dengan melakukan refleksi pengalaman kami masing-masing terkait kompetensi sosial dan emosional. Dilanjutkan dengan mengeksplor konsep, di mana CGP mempelajari konsep pembelajaran sosial dan emosional dengan kerangka kerja CASEL dan implementasinya.

CGP diberikan waktu untuk berdiskusi dalam kelompok dan mempresentasikannya dalam Ruang Kolaborasi. Di tahap ini, CGP berdiskusi tentang contoh ide penerapan 5 kompetensi sosial dan emosional bagi murid dan rekan-rekan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah, namun karena semua CGP di kelas kami mengajar di SMP maka kami tidak membahas tingkat SD dan SMA.  Diskusi berlangsung seru dan mengasikkan. Masing-masing CGP mengutarakan ide-ide yang bisa diterapkan di kelas dan sekolah hingga tanpa terasa waktu yang diberikan oleh fasilitator, Bu Indrawati terasa kurang. Akhirnya saya dan teman-teman melanjutkan diskusi di luar Ruang Kolaborasi. Hal inilah yang membuat pemahaman saya terhadap pembelajaran sosial dan emosional semakin baik.

Setelah mendapat penguatan dari sesama CGP dan fasilitator di Ruang Kolaborasi, tugas saya selanjutnya adalah mendemonstrasikan pemahaman dalam bentuk Demonstrasi Kontekstual tentang penerapan kompetensi sosial dan emosional (KSE) dalam pembelajaran melalui 4 indikator. Saya mendapat tugas membuat RPP/modul ajar dengan memasukkan minimal 2 KSE yang akan diimplementasikan dalam pembelajaran. Untuk memenuhi tugas ini saya mengunggah RPP.

Penguatan materi kembali saya dapatkan dalam sesi Elaborasi Pemahaman yang diberikan oleh instruktur. Dalam kegiatan ini CGP dapat menumbuh kembangkan pemahaman tentang implementasi pembelajaran sosial dan emosional di kelas dan komunitas.

Dilanjutkan dengan membuat koneksi antar materi agar CGP dapat mengungkapkan pengalaman dan pemahaman sebelum dan sesudah mempelajari modul 2.2, serta mengaitkannya dengan materi yang terdapat dalam modul-modul sebelumnya.

2. Apa hal yang belum Anda kuasai setelah pembelajaran hari ini? Apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasi hal tersebut?

Hal yang belum saya kuasai dalam modul Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah cara menentukan ide-ide kreatif yang tidak membosankan bagi murid dan rekan sejawat, bagaimana penerapan pembelajaran bisa berjalan dengan maksimal dan apakah rencana saya akan mendapat sambutan baik dari pimpinan dan rekan sejawat di sekolah.

Yang akan saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah sebagai berikut:

Ø  Penerapan bagi murid: saya akan merancang pembelajaran yang terintegrasi dengan penguatan kompetensi sosial dan emosional secara rutin dengan mencari contoh-contoh praktik baik dari pimpinan, rekan sejawat dan internet.

Ø  Penerapan bagi rekan sejawat atau PTK: menyampaikan rencana pengimbasan kepada Kepala Sekolah sekaligus untuk meminta izin dan arahan dari beliau, berkolaborasi dengan rekan sejawat agar mereka mengetahui rencana pengimbasan dan dapat membantu terlaksananya acara sehingga mencapai tujuan yang diinginkan bersama. 

3. Apa hal yang masih membingungkan Anda dari pembelajaran hari ini? Ceritakan hal-hal apa saja yang membuat hal tersebut membingungkan

Hal yang masih membingungkan dalam pembelajaran ini adalah bagaimana cara mengukur dan mengevaluasi peningkatan kompetensi sosial dan emosional murid dan rekan sejawat setelah mendapat implementasi dan pengimbasan dari CGP dan bagaimana cara yang efektif untuk dapat mengajak semua guru di sekolah agar mau memberikan pembelajaran yang terintegrasi dengan kompetensi sosial dan emosional di kelas masing-masing.

Padahal seperti yang kita ketahui bersama bahwa seorang guru akan mampu berinteraksi lebih baik dan lebih efektif dengan murid apabila memiliki kompetensi sosial dan emosional yang baik pula, begitupun dengan murid, di mana mereka akan mampu mengikuti pembelajaran dengan baik dan lebih bahagia jika mereka mampu mengembangkan kompetensi sosial dan emosional dalam diri mereka.

Dengan penerapan pembelajaran sosial dan emosional di kelas, diharapkan akan terlaksana pembelajaran yang berpusat pada murid agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.

Demikian Refleksi Saya, Semoga Bermanfaat.

 

            Diri Tergerak

                        Kita Bergerak

                                    Mari Menggerakan

Jurnal Refleksi Modul 3.2

Dalam materi ini, saya, calon Guru Penggerak Angkatan 10 Kabupaten Kepulauan Anambas, belajar banyak hal, tentang pengetahuan seputar aset...