KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL
|
Penulis |
: |
Tami Nurhadi |
|
Diterbitkan |
: |
30 Juni 2024
|
Sebelum mempelajari modul ini saya berpikir pembelajaran yang
saya lakukan sudah sesuai dengan proses pembelajaran yang pernah saya pelajari
baik metode maupun strategi. Apersepsi yang saya lakukan untuk mengaitkan
materi yang akan saya berikan dengan materi yang sudah dimiliki oleh peserta
didik. Memberikan penyegaran pada peserta didik melalui ice breaking untuk
mengembalikan kesegaran kefokusan siswa pada proses pembelajaran. Namun,
setelah mempelajari modul ini, ternyata apa yang sudah saya lakukan merupakan
salah satu pembelajaran social emosional, akan tetapi masih pada langkah awal
perlu adanya penambahan langkah yang lebih baik lagi. Antara lain perlunya saya
melakukan kesadaran penuh pada diri saya maupun siswa agar dapat mencapai titik
kefokusan dalam belajar sehingga dapat menghasilkan pembelajaran yang bermakna.
Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan
nyaman untuk menfasilitasi seluruh siswa di sekolah agar dapat meningkatkan
kompetensi akademik maupun kesejateraan psikilogis [well-being], 3 hal mendasar
dan penting yang saya pelajari antara lain; Pertama adalah konsep
Pembelajaran Sosial dan Emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative
for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk
mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran
diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab.Yang kedua adalah tentang pemahaman
konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar penguatan 5
Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) serta bagaimana
mengimplementasikan pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah melalui
4 indikator, yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek
mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya
sekolah, dan penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan
tenaga kependidikan (PTK) di sekolah. Dan yang ketiga tentang
kesejateraan psikologis [well-being]. Dengan memahami ketiga hal tersebut
penerapan kompetensi social emosional baik pada siswa maupun pada guru dapat
terlaksana dengan baik. Karena pembelajaran social emosional merupakan suatu
system yang saling terkait.
Perubahan yang saya terapkan di kelas pada anak didik saya
dengan membiasakan maindfullness pada setiap awal pembelajaran dengan
mengenalkan emosi pada anak, dengan pembiasaan ini diharapkan anak dapat
mengenali dirinya dan mengelola asset-aset yang ada didirinya sehingga memiliki
kesiapan dalam belajar. Disamping itu juga menerapkan 5 KSE baik pada
pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktik mengajar guru dan kurikulum
akademik, penciptaan iklim kelas dengan melibatkan siswa dalam memecahkan
masalah, mengambil keputusan.Dengan penerapan tersebut anak mencapai well-being
sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai.
Perubahan yang saya terapkan pada teman sejawat dengan berusaha
untuk menumbuhkan rasa percaya pada teman sejawat sehingga dapat mendukung
teman sejawat dalam menerapkan kompetensi social emosional dalam peran dan
tugas sebagai guru dengan peduli kepada mereka. Selalu belajar merefleksi
kemampuan social emosional pribadi dan berkolaborasi dengan teman sejawat untuk
menciptakan struktur komunitas dalam penerapan pembelajaran social emosional,
dengan menyamakan persepsi tentang kompetensi social emosional sehingga dapat
tercipta lingkungan sekolah yang aman dan nyaman yaitu lingkungan yang
membangun persepsi bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda
dan perbedaan itu dapat saling melengkapi bukan menyaingi. Dengan
penguatan KSE pendidik mampu menjadi teladan, berkolaborasi dan saling belajar
sehingga mampu membantu murid menemukan jati diri dan mengembangkan
potensinya.
Pembelajaran Sosial Emosional tidak dapat berdiri sendiri sebab
pembelajaran sosial emosional merupakan pembelajaran yang dilakukan
secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah.
Proses
kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di
sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap
positif mengenai aspek sosial dan emosional agar
dapat:
- Memahami, menghayati, dan mengelola
emosi (kesadaran diri)
- Menetapkan dan mencapai tujuan positif
(pengelolaan diri)
- Merasakan
dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
- Membangun
dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi)
- Membuat
keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung
jawab)
Kesadaran Diri:
Kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri
sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi
dan konteks kehidupan.
Manajemen Diri:
Kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri
secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi.
Kesadaran Sosial:
Kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati
dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan
konteks yang berbeda-beda.
Keterampilan Berelasi:
Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan
yang sehat dan suportif.
Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab:
Kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang
berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis
dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari
bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being)
diri sendiri, masyarakat, dan kelompok
Pembelajaran sosial dan emosional dikembangkan dengan
menggunakan pendekatan kesadaran penuh (Mindfulness) sebagai dasar penguatan 5
kompetensi sosial dan emosional yang akan memunculkan perasaan tenang, stres
berkurang, pikiran menjadi jernih, dan fokus serta menjadi semangat dalam
belajar. Yang akan mewujudkan kesejahteraan psikologis atau well being.
Modul Pembelajaran Sosial Emosional memiliki keterkaitan
dengan modul pembelajaran sebelumnya. Pembelajaran social emosional merupakan
langkah untuk mewujudkan well being sehingga pada komunitas sekolah akan
terwujud sekolah yang nyaman, aman, dan akan tercapai kebahagiaan dan
keselamatan anak setinggi-tingginya sesuai dengan yang diamanatkan KHD. Untuk
mewujudkan pembelajaran social emosional peran guru sangat penting. Guru dapat
menumbuhkan nilai dan perannya dalam mengelola kompetensi social dan
emosi anak sehingga nilai kemandirian dan pembelajaran yang berpusat pada
murid serta peran guru penggerak sebagai pemimpin pembelajaran dan mendorong
kolaborasi dapat tercapai dan berjalan seimbang. Dan Hal ini merupakan langkah
untuk mewujudkan visi terciptanya profil pelajar pancasila melalui proses
pembelajaran tentang kesadaran diri, managem diri, kesadaran social, kemampuan
berelasi serta pengambilan keputusan bertanggung jawab. Pembelajaran social
emosional pun dalam pelaksanaannya dapat mengontrol kita untuk menciptakan
budaya positif di sekolah dengan memandang perbedaan individu melalui
pembelajaran berdeferensiasi.
Terimakasih Semoga Bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar